Rabu, 23 April 2014

Ikhtiar, Do'a dan Keyakinan

Selalu berkecamuk dalam hati manusia tentang nasibnya. Bagaimana masa depan saya? apakah saya bisa hidup senang? apakah bisa saya membahagiakan orang tua? apakah bisa saya mendapatkan pasangan hidup? Bisakah saya seperti orang sukses itu? itulah beberapa pertanyaan yang ada dalam hati manusia. pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mengganggu pikiran manusia, manakala tidak ditemukan jawabannya. semakin banyak pertanyaan menumpuk dalam pikiran, maka semakin berat beban hidup yang dirasakan oleh orang tersebut.
untuk itu perlu adanya jawaban-jawaban yang diyakini mampu menjadi solusi terhadap pertanyaan yang terus berkecamuk. misalnya :
1. Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Dia telah memberikan potensi yang luar biasa kepada setiap manusia atau setiap makhluknya.
2. Potensi di luar diri kita juga sangatlah besar meliputi potensi lingkungan dan masyarakat.
3. Penderitaan atau kesulitan menjadikan seseorang kuat, kreatif, dan maju.
Manusia adalah wakil Allah di bumi, untuk menjadi pengelola, dan pemimpin yang baik, berarti secara potensi telah dipersiapkan oleh Nya, sebagai sang Maha Pencipta.







PERSATUAN

Di setiap perkumpulan yang terkecil yaitu keluarga, sampai yang lebih besar misalnya masyarakat tingkat RT,RW, Kelurahan atau Desa, Kecamatan, propinsi, dan negara membutuhkan persatuan. perbedaan fisik, budaya, agama, cara pandang, pasti berbeda-beda. dengan perbedaan yang kita miliki masing-masing, menyebabkan dunia menjadi berwarna dan indah. namun demikian manusia pun memiliki banyak persamaan, baik secara fisik, budaya, agama, cara pandangnya. perbedaan dan persamaan selalu ada dalam keadaan apaun, dan sudah menjadi hukum alam.seorang ayah atau ibu pasti berbeda dengan anaknya, tetapi kalau dilihat-lihat, ada sikap atau tingkah laku, atau pun fisiknya yang sekilas terlihat sama. atau misalnya kakak adik, secara fisik ada yang tinggi dan ada yang tidak terlalu tinggi, tetapi ketika dilihat sepintas ada raut muka yang sama, misalnya dalam senyumnya.
seluruh anggota keluarga  harus mengetahui perannya masing-masing.Mereka harus memiliki visi dan misi yang sama. Kepala keluarga sebaiknya yang menyampaikan tentang visi dan misi keluarganya, didukung oleh ibu sebagai wakil dalam keluarga. secara berkala, visi dan misi itu harus terus dijadikan topik pembicaraan untuk menguatkan seluruh anggota keluarga, tidak terkecuali kepala keluarga, walaupun mungkin kedengaran-nya membosankan (untuk mengantisipasi-nya disampaikan dengan cara perumpamaan, cerita, atau pengalaman hidup)
Saling menghargai fungsi dan tugas masing-masing, menjadi syarat utama terjadinya persatuan di dalam keluarga. Kalau ada yang sudah merasa benar sendiri dan menyalahkan orang lain, disitu lah awal dari keretakan dalam keluarga.
untuk menjalin persatuan, perlu ada yang mengalah (bukan berarti kalah), ketika suasana memanas. ketika sudah kembali kondusif, bisa dikomunikasikan kembali perihal hal yang masih mengganjal, tentu dengan cara yang bijaksana dan bahasa yang baik.
Keluarga adalah representasi dari kumpulan individu yang paling kecil, seandainya proses demokrasi, komunikasi dilakukan dengan baik. Insya Allah akan berdampak positif pada skup yang lebih luas, dilingkungan RT, RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, propinsi dan bangsa Indonesia. Semoga bangsa ini semakin kuat persatuan dan kesatuannya, sehingga akan lebih cepat dalam meraih kemajuan di segala bidang.

Rabu, 22 Agustus 2012

Perjalanan ke Magelang







Jam 10 malam Jum'at tanggal 19 Juni 2008, kami tengah bersiap-siap untuk berangkat ke Candi Borobudur di Magelang. Sebetulnya keberangkatannya adalah hari Jum'at jam 05.00 pagi, sehingga kami harus menginap dulu di rumah Eyang Uthi Boediardjo. Perjalanan kali ini diikuti oleh komunitas hari Selasa, yang diadakan di rumah Eyang Uthi. Kurang lebih 50 orang yang ikut dalam perjalanan. Memang tidak semua menginap, bagi yang akan datang langsung jam 5 pagi, tidak menjadi halangan. Setelah adzan subuh berkumandang, kami semua bergegas untuk mandi dan shalat. Sajian nasi goreng berikut lauk pauknya sudah tersedia, kami semua makan dengan lahapnya. Setelah menata barang-barang bawaan ke bus, jam 05.30, kendaraan berangkat menuju Magelang.

Gelak tawa dan canda ceria menghiasi perjalanan yang menyenangkan. Semua tampak bahagia, diawali dengan pembukaan oleh bang Sanusi, dan do'a oleh saya sendiri, kami menjalani perjalanan yang menyenangkan. Selalu ada keceriaan dalam setiap waktu yang dilewati, apakah dari sikap para penumpang, ataupun perkataannya. Ulah Rio yang menghibur semua penumpang menambah suasana menjadi hangat. Dengan gayanya yang lucu, semua penumpang dipanggi dengan nama-nama artis terkenal, disesuaikan dengan kemiripan wajahnya, menjadikan suasana semakin hidup. Saya sendiri diberi panggilan Ramzi, he,he,he... padahal ada orang yang mengusulkan dengan Arnold Suasana Seger saja, kebetulan wajah saya dan postur tubuh saya agak kekar.

Jam 20.00 kami tiba di Magelang, tepatnya di Pondok Tingal, Hotel milik Eyang Uthi Boediardjo. Kami disuguhi dengan makan malam yang sangat enak. Maaf, dalam rumus makanan, saya hanya mengenal 2 jenis, yaitu enak, dan enak sekali, alias RWO6 (rewog= dalam bahasa sunda senang makan). Kami bangun dipagi dinihari, Pak Haji, pak Himjar, pak Rifa dan saya, menempati kamar 47, dimulai dari saya yang bangun dan menunaikan shalat Tahajud, disusul oleh pak Haji. Beliau mandi, dan dilanjutkan dengan persiapan sholat subuh. Tiba giliran teman saya pak Rifa, terdengar bunyi air, gebyar, gebyur. Kami bercanda dengan teman saya pak Himjar. Wah hebat, pak Rifa mandi di subuh yang dingin begini. Ketika ia keluar, saya tanya,"Pak Rifa abis mandi?" dengan polos dia menjawab "nggak, dingin ah".

"Lah, tadi kok kedengarannya bunyi yang mandi. Jadi tadi ngapain aja? lalu dilanjutkan dengan gelak tawa, dan pak Rifa tersipu-sipu malu. Sampai akhir perjalanan pun kami tidak mengetahui mengapa bunyi gebyar-gebyur yang dilakukan itu ngapain aja? Setelah makan pagi, kami semua siap-siap untuk jiarah ke makam Bapak Boediardjo (almarhum). Kami semua sangat salut sama beliau, sebagai seorang pejuang, mantan mestri dan dubes, serta seorang budayawan, beliau sangat merakyat, bahkan makamnya pun berada di makam keluarga, bukan di Taman Makam Pahlawan. Kami mendo'akan semoga beliau mendapat tempat yang mulia disisi Yang Maha Kuasa, dan diampuni segala dosa-dosanya, serta diberikan berkah untuk keturunannya.

Selepas berziarah, kami melanjutkan perjalanan ke Yogya. Tempat yang kami tuju adalah tempat kerajinan Bapak Seno, beliau memiliki pabrik kerajinan tangan berupa kerajinan tenunan tradisional untuk melayani pasaran luar negeri. Kami sangat senang bisa mendapat harga murah tapi berkulitas, kebetulan saya membeli bahan tenunan untuk pakaian. Karena kami akan mengikuti kegiatan Pentas Budaya jam 20.30, kami harus segera pulang. Kami pun bergegas dan segera menuju kembali ke Pondok Tingal. Alhamdulillah, kami tiba jam 18.30, segera kami mandi, shalat dan makan malam.

Tepat jam 08.00 malam, para penonton sudah siap menunggu pagelaran, sementara para pemain sibuk berdandan untuk pementasan malam itu. Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan alunan musik tradisional para pemain masuk ke lapangan dengan kostum yang unik. Kami sangat menikmati pertunjukan, terutama dengan penampilan terakhir yang memukau penonton, karena kostumnya seperti pakaian indian dari bahan daun-daun. Salah satu tradisi untuk memberikan apresiasi terhadap seniman daerah yang tetap berkiprah dengan seni tradisional ditengah budaya luar yang lebih terkesan wah. tapi dari penampilan pagelaran tersebut, tidak kalah menariknya.


Mendidik Anak

Anak sebagai amanah dari Allah SWT merupakan investasi terbesar bagi kita. Sering kita mendengar orang tua berkata," bapak bekerja banting tulang itu adalah untuk kalian!" Jadi segala usaha dan hasil yang diperoleh sebenarnya lebih kecil artinya dibandingkan dengan keberadaan anak itu sendiri. Sering orang tua-karena terlahir lebih dahulu- lupa bahwa anak kita adalah bukan diri kita, mereka adalah perpaduan dua karakter dari kita dan pasangan kita, juga lingkungan. kebanyakan orang tua berkata, jaman bapak atau ibu dulu tidak sepert ini. kata-kata ini turun temurun disampaikan, hal ini menunjukkan bahwa terjadi perubahan atau perbedaan zaman. jadi sebagai orang tua, atau calon orang tua harus mempersiapkan generasi berikutnya dengan menanamkan nilai-nilai universal, dengan menggunakan alat atau media yang berbeda. Peran orang tua adalah mempersiapkan generasi penerus yang siap menghadapi tantangan di zamannya.

pelajaran saat shalat berjamaah

Ketika hendak sujud, kepalaku kena pantat orang yang ada di depanku, berikutnya aku lebih berhati-hati supaya tidak terlalu dekat dengan orang tersebut. pada saat membaca al fatihah dan surat pendek, tercium bau mulut orang yang ada disampingku, aku berusaha untuk menghindar dari bau mulut tersebut tapi tidak bisa. setelah sholat selesai, saya merenungkan kejadian tadi, dan dapatlah pelajaran dari kejadian tersebut, yaitu kita sebagai manusia yang mempunyai ego tapi ketika saat menghadap sang khalik, hubungan antar manusia menjadi hal yang lebih sederhana, sehingga kita menjadi ikhlas terhadap setiap kejadian yang tidak kita inginkan, karena ada pengharapan yang lebih tinggi dari sekedar gengsi diri, yaitu mendapat penilaian dari Allah SWT.

Saling memaafkan

"Pada hari ini jam 14.20, kakak mengatakan ade alay", Ashfiya berteriak, saat saudara-saudara dari pihak ibu mertuaku sedang berkumpul, "bukankah itu tidak boleh menghina atau mengejek dengan kata-kata yang tidak disukai, katanya. "Apa sih kamu dek, kata Syamila, kakak kan hanya bercanda. saat itu adalah hari ke 3 lebaran idul fitri 1433 H, Ashfiya dan Syamila sedang berkumpul dengan saudara sepupunya, dan Ashfiya berkata dengan gaya anak alay. lalu kakaknya berkata, "alay". Sudah menjadi kesepakatan diantara mereka untuk tidak menghina atau mengejek dengan kata-kata yang jelek atau panggilan yang tidak disukai. Akhirnya saya mengumpulkan kedua anak saya bersama istri, salah satu tradisi di keluarga kami adalah menyelesaikan masalah dengan bermusyawarah. lalu saya menanyakan kronologis kejadiannya.
Setelah tahu kejadiannya, saya menyampaikan bahwa inti dari kejadiannya adalah harus saling menghargai. adik harus hormat kepada kakak, kalau ada hal yang dianggap tidak mengenakkan,jangan langsung diumumkan di depan orang-orang, bisa bisikkan kepada ayah atau ibu. kepada kakak disampaikan, tolong jangan mengejek atau mengatakan sesuatu yang tidak disukai adiknya. kalau kakaknya saja mengejek atau menghina adik sendiri, gimana orang lain mau menghargai adik kita." kata saya sebagi orang tua mereka.
sekarang, kalian semua saling minta maaf dan saling memaafkan.

salah satu tradisi saat lebaran adalah meminta maaf, dari yang tua kepada yang muda dan sebaliknya, atau sesama teman sebaya. sungguh tradisi yang patut dilestarikan. Dalam kehidupan berkeluarga budaya meminta maaf dari orang tua kepada anak atau sebaliknya harus dibudayakan juga, demikian juga antara suami dan istri. budaya memaafkan adalah cara yang mudah dan murah untuk mewujudkan keluarga bahagia.

Kamis, 27 Agustus 2009

Diingatkan oleh anak

sekarang anak ke dua ku yang bernama Ashfiya Shofura Qurata'aini sudah memasuki kelas satu. Ia bersekolah di sekolah alam Tanah Tingal. Ia sangat bangga sekali dengan lebel yang disandangnya yaitu anak kelas 1 SD, ditambah ia bersekolah di sekolah alam, ia pernah berkata bahwa " Anak alam, bukan anak biasa ", maksudnya anak yang bersekolah di sekolah alam, bukan anak biasa. Sebelum memasuki bulan yang penuh berkah yaitu Ramadha, ia sudah mendapat informasi tentang pelaksanaan ibadah puasa. Ia sangat antusias dengan pelaksanaan ibadah yang satu ini, terbukti ia mengemukakan beberapa hal tentang puasa, misalnya " puasa itu apa sih yah?" atau kalau ade masih kecil apakah harus puasa juga? mengapa kita puasa? Memang ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, ia adalah sosok anak yang ekspresif.
Dari beberapa pertanyaan yang dijawab oleh saya, adalah "puasa adalah latihan untuk mengendalikan hawa nafsu, meningkatkan kepedulian kepada orang-orang yang miskin, dan sebagainya". Tiba-tiba ia mengomentari, " Jadi di bulan puasa ini ayah tidak boleh marah ya". Hah, ia dapat mengambil kesimpulan dengan cepat dan mengingatkan saya untuk tidak marah. Hal ini terjadi lagi ketika saya sedang mengendarai mobil menuju Cilegon untuk menemui sahabat lama saya, kami sekeluarga berangkat, dan di perjalanan ada orang yang mengendarai dengan ugal-ugalan, menyalip dengan langsung memotong dihadapan kendaraan yang kami sedang tunggangi. Lalu saya berkata sambil bercanda, "untung yang mengendarai ayah, orang yang sabar". Eh tiba-tiba anaku, Ashfiya bilang, bagus berarti ayah sudah mengamalkan puasa". kalau udah enggak bulan puasa, jangan marah juga ya yah! Hah, kami semua yang ada di dalam kendaraan tertawa dan kaget. atas peringatan yang disampaikan yang kesekian kalinya.

Rabu, 19 Agustus 2009

Marah

Jam sudah menunjukkan jam 16.30 WIB, sambil melihat berita di televisi sesekali saya melihat jam dan rasanya bergerak jarum jam agak lambat. Biasa namanya menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Padahal sudah berkali-kali, saya meminta maaf kepada istri kalau datang terlambat saya tidak akan marah. Entah apa yang menyebabkan saya selalu rindu dengan istri, manakala saya pulang lebih dulu, saya harus menunggu. Padahal, saya pun kalau pulang terlambat, istri harus menunggu.
Memang kami selama menikah dengannya tidak kuat untuk hidup berjauhan, pernah ketika tiga bulan setelah menikah saya harus tugas di Jogja dan Salatiga, saya hanya dapat bertahan 7 bulan. Semenjak itu kami komitmen untuk tidak berjauhan, Alhamdulillah setelah itu justru kami beberapa kali harus bekerja bersama dalam satu institusi. Sampai-sampai karena di tempat kerja bersama, di rumah bersama, sehingga ada tetangga yang sering menggoda kami dengan istilah "pengantin baru terus".
Kami merasakan kebersamaan itu membawa kebahagiaan tersendiri, kadang istriku bertanya, "A, apakah Aa tidak bosan selalu bersama saya?" saya sampaikan bahwa saya selalu senang bersamamu sayang.
Ketika jarum jam menunjukkan jam 17.50 WIB, suara mobil yang dikendarai istri saya terdengar, serta merta saya bangun dari tempat tidur, dan langsung mengambil helm serta jaket, istriku bingung, "A, mau kemana?"tanyanya, "Aa mau pergi, ada perlu". Jawabku singkat, tapi mau kemana? sekali lagi istriku bertanya. Saya tidak menghiraukan pertanyaan istriku, langsung saja motor dihidupkan dan langsung melaju.
Sebenarnya memang saya mendapat tugas dari sekolah untuk membeli beberapa peralatan sekolah, sudah beberapa hari uang saya pegang, karena selalu ada kesibukan sekolah, akhirnya pembelian barang yang sudah harus dibeli jadi tertunda. Ini lah yang dijadikan alasan bagi diri saya, atas perginya saya dari rumah.
Karena belum makan sore, perut sudah mulai berbunyi, akhirnya diputuskan untuk makan ayam goreng di pedagang kaki lima. Ketika sedang makan, handphone saya berbunyi, rupanya istriku menghawatirkan saya, Aa marah ya sama saya? tanya istriku, "enggak" jawabku, tapi tidak seperti biasanya Aa pergi tanpa memberi tahu pergi ke mana? lalu saya jelaskan bahwa saya akan memberi beberapa alat keperluan kelas. Saya pun menutup pembicaraan dengan masih memendam rasa kesal. Setelah perut terisi saya melanjutkan perjalanan, dan tibalah di tempat yang dituju, sebuah tempat perbelanjaan yang lengkap dan terkenal.
Tetapi, setelah sampai di sana, toko langganan satu-satunya di tempat itu sudah tutup, saya penasaran bertanya kepada pedagang yang lain, apakah toko itu tutup atau petugasnya sedang istirahat, kata orang tersebut, "sudah tutup pak", biasanya jam 18.00, sudah tutup. Dengan langkah gontai saya pergi ke tempat parkir dan kembali pulang ke rumah.
Di rumah istriku sedang berada di kamar, ia duduk termenung sambil mengeluarkan air mata, akhirnya saya mengakui kesalahan saya dan saya ceritakan bahwa tokonya tutup, pasti gara-gara tidak diberkahi Allah, pergi meninggalkan istri tanpa informasi yang jelas. Akhirnya kami saling berpelukan dan saling memaafkan.
Istri saya mengingatkan, bahwa keterlambatannya bukan karena disengaja, di sekolah tempat ia bekerja ada pertemuan yang tidak bisa ditinggalkan. Sayapun menyampaikan, bahwa saya sangat rindu sekali dengan sang istri, dan istri saya pun tersenyum bahagia.

Rabu, 12 Agustus 2009

Bismillahirrahmannirrohim

Kalimat "Bismillahirrahmannirrohim", sudah sering saya dengar dan baca, tetapi seolah-olah lewat begitu saja. Ternyata dari kalimat tersebut menyimpan suatu kekuatan untuk umat beragama Islam, bahwa memulai sesuatu itu harus dengan kasih sayang, sebagai mana Allah SWT yang Maha Kasih Sayang. Semua yang didasari dengan kasih sayang akan menghasilkan dampak positif dalam hidup kita. Seorang ayah yang memulai bekerja dengan kalimat bismillahirrohmanirrohim, ia akan memulai kerja dengan menyayangi orang-orang yang ditemui, dari mulai keluarga, tetangga, orang yang ada di bus, angkot, dan teman kerja, akan diwarnai dengan kasih sayang. Apabila ada yang mengejek, bercanda, bahkan marah sekalipun tentu akan disikapi dengan tenang, berpikir positif, dan selalu memahami siapapun. Sebelum bertindak tentu akan berfikir terlebih dahulu, apakah orang yang ada disekitar kita tersakiti atau tidak. Dengan celupan kalimat kasih sayang ini, akan membawa warna buat kehidupan kita. Karena bermula dari kita, dunia kita akan terbentuk.
Menarik dengan pernyataan dari Pak Mario Teguh yang menyampaikan bahwa, nama-nama Allah sebanyak 99 nama, kalau dicari inti dari semuanya adalah Kasih sayang Allah SWT. Allah memberikan ujian kekurangan uang, karena kasih sayangnya supaya kita berusaha, dan mendapat pahala dari usaha kita tersebut, atau kasih sayang dari Nya supaya kita siap terlebih dahulu dengan dibekali sikap tenggang rasa kepada yang kekurangan, ketika kita siap,
lalu Allah berikan kesempatan kepada kita untuk menjadi Kaya. Ketika kita merasa kita ada kekurangan, itu adalah tanda kasih sayang Allah, supaya kita menghargai orang lain yang diberi kelebihan dan melengkapi kekurangan kita. Ya Allah, terimakasih atas ilmu yang kau berikan kepada hamba-Mu ini, semoga bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. aamiin

Hikmah bertemu orang Maju

rrrrrrrrrrrrrrr, handphoneku bergetar, tanda ada sms masuk, lalu saya lihat, ternyata ada pesan yang berbunyi "Wajib hadir untuk guru TK dan SD Rabu 12 Agustus 2009 ashar pada acara "Memotivasi" " Belajar pada alam semesta " bersama Mario Teguh " di Kandang Jurang Doank". Saya harus menyampaikan pesan ini kepada guru-guru, alhamdulillah guru-guru merespon dengan baik. Bersyukur saya memiliki guru-guru yang sangat antusias dalam mencari ilmu. Tetapi ketika tanggal 12 Agustus 2009 tiba, pagi-pagi sekitar jam 08.30, saya mendapat kabar bahwa acara dimajukan menjadi jam 10.00, artinya dengan berat hati para guru SD tidak dapat ikut, saya bersama wakil Dir.Eksekutif, serta koordinator TK saja yang diputuskan untuk mengikuti acara. Segera kami bertiga berangkat dan sampai dilokasi 10 menit kemudian. Mas Dik Doank saat itu sedang sibuk memberikan petunjuk arah kepada supir Pak Mario Teguh melalui handphone dan mempersiapkan lokasi yang akan diliput oleh Metro TV. Kurang lebih jam 11.00 pak Mario beserta istri tiba di lokasi, beliau diajak touring ke lokasi dan fasilitas yang dimiliki oleh Kandang Jurang Doank, diantaranya karya lukis Mas Dik Doang, film dokumenter perjalanan Kandang Jurang Doank. Karya yang ada di dalamnya penuh makna, ditata dengan sangat apik dan sangat unik.
Saya pikir setelang touring selesai, saya pikir segera pak Mario akan mengisi di lokasi para relawan dan masyarakat umum yang diundang. Ternyata setelah kami tunggu-tunggu, rupanya pengambilan liputan dari Metro TV sedang berlangsung. Akhirnya saya mencoba mengikuti dialog Mas Dik dengan Pak Mario Teguh, di tempat yang dilakukan touring sebelumnya. Kata-kata Pak Mario Teguh yang tenang tetapi memiliki makna yang dalam sehingga memberikan dorongan untuk melakukan sesuatu kepada si pendengarnya.
Ketika proses dialog selesai dan Pak Mario Teguh meninggalkan ruangan, saya sempat menyapa beliau dan mengucapkan terimakasih banyak serta menjabat tangannya, karena beliau telah memberikan dorongan dan motivasi yang sangat super bagi saya. Dengan sangat santun beliau menyampaikan, semoga apa yang disampaikan saya bermanfaat. Kata-kata yang sederhana tetapi sangat dalam pengaruhnya bagi saya. Betapa beliau sangat rendah hati dan santun. Sekali lagi terimakasih Pak Mario, semoga saya juga semakin banyak manfaatnya untuk umat manusia. Kebetulan saya bergerak dalam bidang pendidikan, saya siap berbagi pengalaman dengan teman-teman yang mau membuat sekolah alam, sebagai salah satu pendidikan alternatif bagi siswa. Silahkan bisa menghubungi e-mail: i_sodikin@yahoo.com, ahmsodik@gmail.com.

Senin, 02 Februari 2009

Belajar dari kelalain

Ibu, uang kembalian sebesar 40 rb itu, hilang", kata anakku pada saat kami baru pulang. Tentu saja kami sebagai orang tua agak marah, "ya sudah, kamu tidak mendapat uang jajan, selama 4 hari, jawab kami. Dengan berat hati kami mencoba untuk memberikan ketegasan kepada anakku untuk lebih berhati-hati.

Kami ajak ia berdiskusi, dan mencoba untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Sebagai pengganti uang jajan, ia harus membawa makanan dari rumah, kami beri kepercayaan kepadanya untuk memasak sendiri, kebetulah masih ada chicken nugget dan telur, dan ia pun setuju.

Pagi-pagi sebelum berangkat sekolah ia sudah memasak, melihat komitmen yang diberikannya cukup bagus akhirnya istriku mendampingi anakku menyiapkan makanannya. Ketika mobil antar jemputnya sudah tiba, ia segera berangkat dengan mencium tangan kami berdua. "belajar yang baik ya nak", pinta kami kepadanya. Alhamdulillah, anakku dapat mengerti tentang konsekuensi dari sikap. kami mengajarkan kepadanya, setiap tindakan pasti ada konsekuensinya. Mudah-mudahan ini dapat menjadi bekal hidupnya dimasa sekarang dan masa yang akan datang.

Istriku dapat mengendarai mobil

Sudah sejak lama istriku ingin sekali diberi kepercayaan untuk mengendarai mobil. Padahal beliau sudah saya ajari dan ia dapat mengendarai dengan cukup baik. Dimulai dengan belajar fungsi rem, kopling, gas, dan persneling, istriku dapat mengoperasikannya disekitar komplek rumah kami. Tetapi hatiku masih belum secara bulat mempercayainya untuk membawa kendaraan di jalan raya, hal ini disebabkan kekhawatiranku yang berlebihan disebabkan rasa cintaku yang besar kepadanya, takut terjadi apa-apa. Tetapi dengan adanya ketidakpercayaan saya itu mengakibatkan, aktivitas istriku menjadi tergantung kepada supir yang sudah mahir, dalam hal ini, saya. Ketika perjalanan jauh dan kondisi sang supir sudah lelah, terpaksa perjalanan harus dihentikan, menunggu sang supir tidur dulu.

Dari beberapa pertimbangan yang diolah dalam diri saya sendiri, akhirnya pada hari Minggu, tanggal 1 Februari, dengan lapang dada saya berikan kepercayaan kepada istriku untuk membawa kendaraan ke Cimanggis Depok. Alhamdulillah, istriku mengendarai kendaraan dengan selamat, demikian juga pada saat besoknya ketika kami pulang. Istriku semakin percaya diri, dan pada hari ini pun saya beri kepercayaan ia untuk mengendarai kendaraan dari rumah kami di Parung menuju Ciputat, tempat kami bekerja.

Dengan adanya pengalaman di berbagai medan, istriku semakin menguasai mengendarai kendaraannya, mulai dari cara mengendarai di saat macet dengan medan datar dan saat macet dengan medan menanjak. Sekarang saya semakin sadar, pentingnya memberi kepercayaan kepada orang-orang yang dekat dengan kita.

Sabtu, 31 Januari 2009

Anakku sudah mulai remaja

11 tahun sudah usia anakku yang paling besar. Ia sudah tumbuh menjadi perempuan remaja. Tanggal 28 Januari 2009 adalah awal ia mendapat mensturasi. Istri saya telah memberikan pembekalan kepadanya tentang alamiahnya seorang perempuan dewasa. Alhamdulillah dengan memberikan sikap terbuka kepadanya tentang permasalahan yang dihadapi, ia tidak malu-malu menceritakannya.
Kami telah sepakat(saya, istri, dan anak) untuk menangani masalah yang dihadapinya dengan cara bertukar pikiran. Kami sepakat untuk menghargai pendapat-pendapatnya dan menjaga harga dirinya didepan umum. Panggilan kepadanya adalah "kakak", tidak lagi namanya langsung.
Dari hasil pembicaraan kami dengannya, didapat informasi, ada beberapa anak laki-laki yang mengutarakan rasa senangnya kepada anakku. Kami jelaskan kepadanya bahwa saat sekarang bukanlah saat yang tepat untuk "berpacaran", dengan memberikan gambaran pencapaian cita-cita yang masih jauh, akhirnya ia sendiri dapat mengambil keputusan sendiri, bahwa saat sekarang adalah saatnya mempersiapkan diri meraih cita-cita.
Alhamdulillah, kami sangat senang mendengar jawabannya tersebut. Melalui contoh yang kami berikan kepada anak kami, mudah-mudahan ia dapat menjaga kesucian dirinya. aamiin

Kamis, 04 Desember 2008

Idolaku

Kakakku yang paling besar bernama Aos Abdul Gaos, ia terpaut 5 tahun denganku. Ia adalah inspirasi dalam hidupku. Sejak kecil beliau selalu menjadi panutan adik-adiknya, bahkan teman-teman sebaya di sekitar rumahku. Ia selalu menjadi pemimpin, ketika bermain perang-perangan, bermain mobil-mobilan, dan berbagai jenis permainan lainnya. Sejak kecil beliau selalu menjadi nomor satu dalam bidang akademis, dari sejak SD, SMP dan STM. Penampilannya selalu modis, betapa kakakku menjadi idolaku, ia suka berpenampilan seperti anak yang nakal, dengan berpenampilan rambut gondrong, tetapi ia juara satu di sekolahnya. Ia pintar bermain gitar dan melukis. Pernah ia membuat gambar tarzan dan binatang purba dan dipajang di ruang tamu rumahku. Saya benar-benar mengagumi kakakku dalam hal kepandaiannya dan kedalaman ilmunya. Ia adalah tipe orang yang serius, kesenangannya membaca, sehingga koleksi buku-bukunya sekarang memenuhi rumahnya. Sekarang ia sebagai tenaga pengajar di Aliyah Pesantren Darul Muttaqien Parung Bogor dan sekaligus sebagai Penceramah. Kesenangannya dalam menuntut ilmu diperlihatkan dengan terus melanjutkan pendidikan formal, setelah lulus dari UT jurusan managemen, beliau melanjutkan ke ICAS, Islamic Collage for Advance Studies dan sekarang tengah menyelesaikan tesis. Ya Allah, berikan ilmu yang telah dimiliki oleh Kakakku menjadi ilmu yang bermanfaat untuk umat manusia. aamiin

Selasa, 18 November 2008

Istriku

Shinta, oh Shinta ....
Nama yang indah
Sosok wanita yang menjaga kesucian
Manakala namamu dipanggil
Dak dik duk rasa hatiku

Keindahan pekertimu
Mengalahkan kecantikan fisik wanita manapun
Senyummu menjadi pengobar semangatku
Kata-katamu menjadi inspirasi keberhasilanku

Suka dan duka kita jalani bersama
Kebahagiaan menjadi selimut bahtera rumah tangga kita
12 tahun kita telah melalui waktu bersama
Gelora cinta senantiasa membara
Membakar semangat pengorbanan cinta

Sayangku, Yuliana Shinta Dewi
Cinta kita adalah lambang pengorbanan dan kebahagiaan
Ya Allah, persatukanlah kami di dunia
dan persatukan kami di syurgamu kelak
bersama orang orang yang sholeh

Ashfiya Shofura Qurata'aini

Hari itu adalah hari jum'at tanggal 26 September 2003, seorang bayi cantik lahir dengan selamat kedunia ini dengan diiringi senyum bahagia oleh sang ibu dan ayah beserta kakaknya. Ucapan selamat berdatangan dari segenap keluarga baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu. Nama yang sangat unik, Ashfiya Shofura Qurata'aini yang artinya kurang lebih bersih hati dan fisiknya seperti Shofura (istri nabi Musa) yang menjadi enak dipandang mata.
Saat-saat yang begitu menegangkan, manakala sebalum kelahirannya sang ibu harus dipindahkan dari bidan yang menanganinya di Candraloka Telaga Kahuripan ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Citra Insani. Sudah dua hari dua malam sang bidan berusaha supaya kelahirannya normal, tetapi karena tidak menunjukan adanya perkembangan setelah pembukaan lima, akhirnya pihak Rumah Sakit memutuskan untuk operasi. Alhamdulillah, saat-saat yang menegangkan telah terlewati, dan berganti dengan kebahagiaan yang tidak terkira, seorang bayi perempuan yang cantik, sempurna.
Ashfiya adalah bayi yang kuat, ketika dalam kandungannya sang ibu mampu mengatasi berbagai masalah dengan penuh kekuatan dan tegar. Ia adalah tipe anak yang berani, jangankan dengan teman sebaya dengan yang lebih besarpun ia sanggup melawan. Sikap sportifnya terlihat ketika ia mau menerima kekalahan, dan dapat diingatkan ketika melakukan kesalahan. Ia juga sangat cerdas, ia akan berusaha mencapai yang diinginkannya dengan berbagai cara. Sungguh karunia yang sangat besar mendapat titipan amanah dari sang Maha Pencipta, dengan dikaruniai anak-anak yang baik dan cerdas. Ya Allah berikan jalan yang lurus untuk Ashfiya, lindungi ia dari mara bahaya dan tinggikanlah derajatnya serta lahirkan daripadanya keturunan yang shalih dan shalihah. Aamiin

Jumat, 13 Juni 2008

Pengendalian Diri

Kalau kita melihat berita di beberapa media masa baik cetak maupun elektronik saat ini, kita akan disuguhi oleh aneka keributan, apakah perang antar kampung, tawuran antar pelajar, demo para mahasiswa yang berakhir ricuh, pro dan kontra terhadap aliran ajaran kepercayaan tertentu, dan masih banyak aneka peristiwa yang menunjukkan perbedaan pendapat antara satu kelompok dengan kelompok yang lain, atau satu individu dengan individu lain, terlepas dari keyakinan siapa yang benar dan siapa yang salah, kita melihat adanya ketidak mampuan dalam mengendalikan diri.

Kita semua perlu melatih mengendalikan diri sendiri dalam mensikapi berbagai kejadian, keadaan yang mungkin berbeda dengan kehendak atau harapan kita. Islam memberikan tuntunan bagi umatnya untuk mensuritauladani Rasulullah S.A.W dalam mengendalikan hawa nafsu. Dalam salah satu haditsnya, beliau berpesan kepada umatnya untuk mengendalikan emosi dengan larangan marah.

Islam juga sangat menjunjung tinggi penggunaan akal dan pikiran, artinya kita harus mencari jalan keluar dengan cerdas, bukan hanya memuaskan hawa nafsu melalui marah, tetapi pensikapan terhadap kejadian atau keadaan dengan bijaksana. Bahkan ketika kita berdebat sekalipun perlu menggunakan kata-kata yang  baik.

Keadaan Bangsa Indonesia saat ini, disatu sisi memang cukup memprihatinkan, artinya masih perlu waktu bagi semua komponen bangsa untuk mampu mengendalikan diri, tetapi bukan berarti kita patah semangat untuk tetap memiliki itikad baik menjadi yang lebih baik dengan cara terus belajar. Tidak takut salah dalam memilih langkah, tetapi keberanian untuk memperbaiki diri, adalah kunci utama menuju perbaikan diri dimasa yang akan datang.

Tidak ada kejadian yang buruk, bagi orang yang terus menerus memperbaiki diri, bahkan sampai lepasnya ruh dari raga. Tidak ada orang yang steril dari kesalahan, jadi, jangan merasa keadaan hari ini sebagai akhir dari dunia ini. Selama kita masih memiliki nafas, disitu kesempatan memperbaiki diri masih ada. Tetap Semangat Bangsa Indonesia! Masa depan cerah ada dihadapan kita.

Selasa, 08 April 2008

Syamila

Kring, kring, kring... bunyi telpon berdering di kantor PT. Abilowo Djoyo Cattle Industries, Salatiga. Halo, bisa bicara dengan bapak Ikin? Dari mana bu? jawab operator, saya istrinya. oh, nanti saya akan panggil sebentar. Halo, ada apa say? ini A, aku udah masuk rumah sakit, udah terasa mules-mulesnya agak sering. Kalau begitu aku akan segera pulang lagi ke Bekasi, aku akan minta izin dulu sama pak Wid.

Pak, Istri saya udah mau melahirkan, jadi saya harus pulang lagi - waktu itu baru dua hari saya sampai di Salatiga. Gak apa-apa pak Ikin, segera saja. Dengan tergesa-gesa akhirnya saya pulang terlebih dahulu ke rumah dan segera menuju ke terminal. Dari Salatiga saya harus naik mobil ke Semarang terlebih dahulu. Ketika sudah sampai terminal Semarang saya mencari mobil yang hendak berangkat, lalu saya bertanya, "ke Jakarta Pak? Iya, kata orang tersebut. Langsung saja saya naik mobil tersebut dan kebetulan masih ada kursi yang kosong. Selama perjalanan, mobil tesebut berhenti-berhenti, berbeda dengan biasanya. Sampai akhirnya saya tahu, rupanya mobil tersebut tidak sampai ke Jakarta, tapi hanya sampai ke Tegal. Waktu itu hari sudah malam, dan mobil ke Jakarta selalu penuh, jadi aku harus menunggu lama. Sampai akhirnya saya dapat juga itu mobil yang ke Jakarta.

Dalam perjalanan hatiku tak menentu, senantiasa melihat jam tangan dan tidak sabar ingin cepat sampai. Ketika sampai di terminal Pulau Gadung, waktu sudah menunjukkan jam 5 pagi. Saya naik metro mini, kebetulan masih sangat kosong, jadi terpaksa ia harus berhenti-berhenti, Alhamdulillah saya sampai ke rumah di perumahan Duta Kranji Bekasi jam 5.30. Assalamu'alaikum, wa'alaikum salam, jawab papah mertuaku, A mba Ita ada di Rumah Bersalin, Aa sholat aja dulu. Setelah saya sholat, segera saya menuju rumah bersalin. Alhamdulillah, Aa udah sampai kata ibu mertuaku, kata bidan sih masih beberapa jam lagi A, jadi mamah mau pulang dulu yach, karena dari malam nggak tidur, kata ibu mertuaku, oh iya Mah nggak apa-apa. Akhirnya saya tunggu kelahiran anak pertama saya. 30 menit kemudian, istriku sudah siap melahirkan dan dibantu oleh bidan yang sudah berpengalaman, akhirnya istriku melahirkan anak pertamaku, tangis bayi yang memecah kegelisahan menjadi kebahagiaan yang tidak terkira.

Sosok bayi yang sempurna, dengan berat 2,7 kg, anakku lahir dengan selamat dan normal. Derai air mata bahagia menetes dari air mata kami berdua. Alhamdulillah, Ya Allah terimakasih atas anugerah yang telah Engkau berikan, langsung saya bersujud syukur. Rupanya sang bayi menunggu ayahnya yang jauh-jauh dari Salatiga menuju Bekasi. Ibu dan papah mertuaku, serta ayah dan ibuku turut senang dengan kelahiran anak kami. Dari pihak istriku, ini adalah cucu pertama bagi mertuaku, sedangkan bagi ayah dan ibuku ini adalah cucu yang ke 9. Kami berinama Afra Syamila Fathun Najah, yang artinya bulan purnama sebagai pembuka kesuksesan -karena pada saat itu tepat bulan purnama. Memang benar, setelah kelahiran putri pertama kami, kehidupan kami semakin membaik. Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan begitu banyak nikmat, hingga kita tidak dapat menghitung-hitungnya.

Rabu, 26 Maret 2008

Saling Menghargai


Mahligai rumah tangga yang terbangun atas dasar cinta dan saling pengertian menjadi dambaan setiap insan - terutama yang akan memasuki jenjang pernikahan, bahkan yang sudah berkeluarga lama sekalipun. Tetapi dalam mengarungi bahtera berkeluarga tidak jarang ombak dan badai menerpa dengan kencang. Dalam kondisi seperti itu dibutuhkan saling menghargai satu sama lain, kita bisa meninjau latar belakang kehidupan pasangan kita, atau kita bisa mengevaluasi kembali alasan melangsungkan pernikahan, maka dengan cara begitu bisa jadi kita akan tumbuh rasa pengertian kepada pasangan kita. Pada dasarnya manusia butuh dihargai, untuk itu berikan penghargaan yang tinggi untuk pasangan hidup kita.


Sepanjang pengetahuan saya dalam mempelajari agama Islam, kehidupan berkeluarga yang dijalani oleh Rasulullah SAW, merupakan gambaran keluarga yang menjadi panutan. Beliau sangat menghormati istrinya dan demikian pula sebaliknya. Berikan kebahagiaan untuk pasangan kita, maka kitapun akan ikut bahagia, karena pasti pasangan kitapun akan membalas dengan penghargaan lagi. Hal ini dapat kita ibaratkan ketika kita melempar bola, semakin keras kita melempar bola ke dinding, maka pantulannya akan semakin keras. Mudah-mudahan budaya menghargai yang dimulai dari keluarga, yaitu suami menghargai istri dan sebaliknya, anak menghargai orang tua dan sebaliknya, akan membawa kepada terbentuknya budaya bangsa yang saling menghargai.

Senin, 24 Maret 2008

Keluargaku

Aku terlahir dari keluarga yang saling menghargai satu sama lain. Ayahku seorang montir mobil yang bertanggung jawab, dari beliaulah aku mendapat sosok ideal seorang ayah yang bertanggung jawab. Perawakannya yang kekar, berani, gemar membantu orang lain dan cerdas. Beliau dikenal galak bagi beberapa kalangan, tapi bagiku beliau adalah orang yang berwibawa dan penuh kharisma. Sedangkan ibuku adalah sosok ibu rumah tangga yang cerdas dan kreatif serta memiliki kekuatan dalam menentukan arah pendidikan keluarga. Sejak kecil ibu membiasakan kami berdiskusi apabila kami anak-anaknya memiliki masalah. Beliau sangat mengerti karakter semua anak-anaknya - kami terdiri dari 6 bersaudara. Penanganan kepada yang satu dengan yang lain berbeda disesuaikan dengan sifat masing-masing. Beliau juga dapat menggunakan cara yang berbeda ketika kami masih kanak-kanak, remaja, dan saat dewasa serta berkeluarga.

Kami terbiasa terbuka dengan orang tua, bahkan dalam urusan ditolak cinta sekalipun. Mereka dengan meyakinkan memberikan suport kepada kami untuk tidak pernah berputus asa. Mereka sering menceritakan pengalaman masa kecil mereka yang kalau dibandingkan dengan kami saat itu jauh sangat memprihatinkan. Tetapi berkat semangat, kesungguhan, dan keyakinan kepada Allah SWT, maka semua cita-cita mereka tercapai. Salah satunya adalah mereka bercita-cita agar anak-anaknya dapat kuliah di perguruan tinggi. Walaupun pada saat itu kondisi ekonomi keluarga kami sedang dalam keadaan pailit, tetapi semangat orang tua yang senantiasa didengung-dengungkan, membawa motivasi bagi kami semua untuk mewujudkan cita-cita mereka.

Kami yakin bahwa cita-cita mereka adalah demi kebahagiaan kami sendiri, bukan untuk mereka. Mereka pernah berkata, seandainya kami semua telah maju, maka pantang bagi mereka untuk meminta-minta. Dengan adanya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, maka kami sebagai anaknya mengetahui apa yang diinginkan orang tua dan apa manfaatnya. Mereka sering membandingkan antara orang yang berpendidikan dan tidak terlihat dari cara berfikirnya dan penghargaan orang lain kepada mereka pun akan berbeda. kami sebagai anak dapat memahami dengan baik alasan tersebut dan ternyata benar apa yang telah disampaikannya.

Sekarang saya telah berkeluarga dan memiliki 2 orang anak. Kami dikeluarga mencoba mengaplikasikan apa yang telah kami dapatkan, dan mengembangkan pengalaman tersebut dari membaca buku, dan bertukar pengalaman. Kami menemukan beberapa kunci kebahagiaan dalam berkeluarga, diantaranya: saling menghargai, adanya keterbukaan, berusaha saling membahagiakan. Teriring do'a yang kami panjatkan kepada Yang Maha Kuasa setiap selesai solat untuk kebahagiaan orang tua kami yang telah tiada, semoga mereka mendapat kebahagiaan yang hakiki disisi-Nya, dan menjadikan pahala yang terus mengalir bagi keduanya yang telah memberikan ilmu kehidupan yang sangat besar manfaatnya.