Rabu, 19 Agustus 2009

Marah

Jam sudah menunjukkan jam 16.30 WIB, sambil melihat berita di televisi sesekali saya melihat jam dan rasanya bergerak jarum jam agak lambat. Biasa namanya menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Padahal sudah berkali-kali, saya meminta maaf kepada istri kalau datang terlambat saya tidak akan marah. Entah apa yang menyebabkan saya selalu rindu dengan istri, manakala saya pulang lebih dulu, saya harus menunggu. Padahal, saya pun kalau pulang terlambat, istri harus menunggu.
Memang kami selama menikah dengannya tidak kuat untuk hidup berjauhan, pernah ketika tiga bulan setelah menikah saya harus tugas di Jogja dan Salatiga, saya hanya dapat bertahan 7 bulan. Semenjak itu kami komitmen untuk tidak berjauhan, Alhamdulillah setelah itu justru kami beberapa kali harus bekerja bersama dalam satu institusi. Sampai-sampai karena di tempat kerja bersama, di rumah bersama, sehingga ada tetangga yang sering menggoda kami dengan istilah "pengantin baru terus".
Kami merasakan kebersamaan itu membawa kebahagiaan tersendiri, kadang istriku bertanya, "A, apakah Aa tidak bosan selalu bersama saya?" saya sampaikan bahwa saya selalu senang bersamamu sayang.
Ketika jarum jam menunjukkan jam 17.50 WIB, suara mobil yang dikendarai istri saya terdengar, serta merta saya bangun dari tempat tidur, dan langsung mengambil helm serta jaket, istriku bingung, "A, mau kemana?"tanyanya, "Aa mau pergi, ada perlu". Jawabku singkat, tapi mau kemana? sekali lagi istriku bertanya. Saya tidak menghiraukan pertanyaan istriku, langsung saja motor dihidupkan dan langsung melaju.
Sebenarnya memang saya mendapat tugas dari sekolah untuk membeli beberapa peralatan sekolah, sudah beberapa hari uang saya pegang, karena selalu ada kesibukan sekolah, akhirnya pembelian barang yang sudah harus dibeli jadi tertunda. Ini lah yang dijadikan alasan bagi diri saya, atas perginya saya dari rumah.
Karena belum makan sore, perut sudah mulai berbunyi, akhirnya diputuskan untuk makan ayam goreng di pedagang kaki lima. Ketika sedang makan, handphone saya berbunyi, rupanya istriku menghawatirkan saya, Aa marah ya sama saya? tanya istriku, "enggak" jawabku, tapi tidak seperti biasanya Aa pergi tanpa memberi tahu pergi ke mana? lalu saya jelaskan bahwa saya akan memberi beberapa alat keperluan kelas. Saya pun menutup pembicaraan dengan masih memendam rasa kesal. Setelah perut terisi saya melanjutkan perjalanan, dan tibalah di tempat yang dituju, sebuah tempat perbelanjaan yang lengkap dan terkenal.
Tetapi, setelah sampai di sana, toko langganan satu-satunya di tempat itu sudah tutup, saya penasaran bertanya kepada pedagang yang lain, apakah toko itu tutup atau petugasnya sedang istirahat, kata orang tersebut, "sudah tutup pak", biasanya jam 18.00, sudah tutup. Dengan langkah gontai saya pergi ke tempat parkir dan kembali pulang ke rumah.
Di rumah istriku sedang berada di kamar, ia duduk termenung sambil mengeluarkan air mata, akhirnya saya mengakui kesalahan saya dan saya ceritakan bahwa tokonya tutup, pasti gara-gara tidak diberkahi Allah, pergi meninggalkan istri tanpa informasi yang jelas. Akhirnya kami saling berpelukan dan saling memaafkan.
Istri saya mengingatkan, bahwa keterlambatannya bukan karena disengaja, di sekolah tempat ia bekerja ada pertemuan yang tidak bisa ditinggalkan. Sayapun menyampaikan, bahwa saya sangat rindu sekali dengan sang istri, dan istri saya pun tersenyum bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar